Tanggung Jawab Sendiri
Kadang aku merasa, bahwa apa-apa harus kuselesaikan sendiri. Gak semuanya memang, tapi sebagian. Entah besar atau kecil.
Aku merasa aku yang harus bertanggung jawab. Sendiri. Sama siapa lagi? Melemparkan ke orang lain?
Tentang kenapa aku begini. Kenapa aku sedih. Kenapa kecewa, sebal, emosi, dan perasaan lainnya. Terutama yang negatif. Aku penentunya. Aku punya andil besar untuk itu.
Kita memang makhluk sosial. Gak bisa hidup sendiri. Butuh bantuan orang lain. Sayangnya, kadang aku merasa ga bisa minta bantuan ke orang lain. Gak boleh. Atau gak berani? Entahlah. Aku gak ingin merepotkan. Aku merasa bisa. Aku mau melewatinya sendiri. Jikapun mereka tahu, biarlah nanti jika sudah selesai.
Kenapa? Apakah hal demikian kurang baik?
Iya, aku sadar bahwa rasa jenuh gak jarang menghampiri. Kadang ingin melampiaskan dengan bercerita. Aku melakukannya dengan bercerita sendiri. Self talk. Atau menulis seperti ini. Banyak cara membunuh kejenuhan kan? Gak selalu dengan ketemu dan atau curhat ke teman?
Kadang pun hanya menumpuk di kepala. Gak benar-benar terbuang. Begitu datang tumpukan baru, rasanya pening. Keruh. Sesek. Seperti ga ada ruang untuk berpikir jernih, tenang, dan fokus.
....
*ditulis menjelang tidur, lampu sudah padam.
Komentar